Usai memberikan tanggapan terkait penggunaan LSP-1, Mustafa merincikan adanya empat item penganggaran utama yang masuk ke rekening sekolah. Sumber anggaran tersebut meliputi Anggaran Bosda yang langsung dari APBD, Anggaran BOSP yang bersumber dari APBN, Beasiswa KIP diperuntukan bagi siswa tidak mampu yang juga bersumber dari APBN, dan penganggran LSP 1.

“Sekolah SMK 2 siswa 1.010.00. tercatat di dapodik, kalau anggaran BOSP dihitung persiswa, per siswa 1.600.000 setiap, begitu juga Bosda 75.000 per siswa setiap bulan, kalau untuk penganggaran LSP-1 sekitar 150.000.00- 200.000.00 juta,” ungkap Mustafa saat ditemui media.

Ia juga menjelaskan bahwa penganggaran BOSP dan besarnya sudah tercatat di dapodik dan dianggarkan melalui sistem 6 bulan sekali pada tahun kemarin 2025. Hal yang aneh, meskipun tercatat ada 1.020 siswa yang terdaftar di dapodik, namun jika terjadi pergeseran angka sistem tetap menggunakan jumlah tersebut.

“Untuk jumlah siswa yang terdaftar didapodik siswa 1.010.00, walaupun faktanya terjadi pergeseran siswa mereka tetap menggunakan sistem dapodik, jadi dalam satu tahunnya tidak berubah dengan angka itu, siswa mau kurang mau lebih itu sudah, sementara bosda yang diterima 900.000.00 juta per tahun,” tambah Mustafa dengan sedikit kelucuan agar tidak direkam.

Jika dikalkulasikan secara matematis berdasarkan jumlah siswa dengan nilai BOSP maupun Bosda pada satuan pendidikan SMKN 2 Kota Ternate dalam setahun, alokasi dana BOSP senilai Rp 1.600.000 dikali dengan 1.010 siswa maka menghasilkan Rp 1,6 miliar lebih.