Opini- Tuntutan itu memang terasa begitu mencekik. Dalam cengkeraman sistem kapitalisme, manusia acap kali direduksi hanya sebatas roda penggerak yang harus terus berputar, dipaksa patuh pada standar, struktur, dan pembagian peran buatan yang konyol.
Pembedaan gender yang kaku sedari lahir pun menjadi salah satu bentuk alat kontrol sosial sebuah sekat buatan yang tidak hanya merugikan satu pihak, tetapi memenjarakan potensi kemanusiaan di kedua belah sisi secara tidak sadar.
Laki-laki dan Perempuan, dua kata pembeda pada manusia yang melahirkan keharusan untuk merasa kecil juga tidak diperbolehkan merasa kecil, perempuan di konstruk menjadi perempuan yang anggun, lemah, dilindungi, tunduk, patuh dan taat sampai pada bagaimana cara ia tersenyum, merespon sesuatu, gaya berpakaiannya serta bagaimana ia bersolek, keharusan untuk selalu feminine meski tak nyaman. Lalu laki-laki, mendengar kata ini banyak yang menyangka konstruksi untuk selalu kuat, bisa mengatasi segalanya, dan hal hal maskulin lainnya menguntungkan, namun tidak disadari hal tersebut menguras banyak energi sedari kecil, hanya untuk memberi makan norma dan budaya yang bahkan berakibat fatal.
Keharusan menjadi perempuan juga laki-laki dan bukan sebagai manusia yang berhak atas dirinya sendiri, berdampak besar pada dirinya dan pada mimpi-mimpinya. Subordinasi, marginalisasi dan streotipe toxic yang didapatkan perempuan melanggengkan diskriminasi dan kekerasan lainya bahkan pada femisida yang meningkat setiap tahunya. Berdasarkan data Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan, jumlah total kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia pada tahun 2021 tercatat 459.094 kasus, 2022 sebanyak 457.895 kasus, 2023 sebanyak 401.975 kasus, 2024 mencapai 445.502 kasus, dan 2025 melonjak menjadi 376.529 kasus kekerasan berbasis gender. Sementara kasus femisida tercatat ratusan kasus per tahun, melalui pantauan media dan laporan langsung.
Pertanyaannya apakah laki-laki tidak pernah mengalami kekerasan?
Konstruksi sosial yang mengharuskan laki-laki selalu kuat dan pantang merasa Lelah merupakan salah salah satu faktor pendukung, kenapa minim pelaporan kasus kekerasan yang korbannya adalah laki-laki, rasa takut akan streotipe toxic mendominasi, menghilangkan keberanian untuk berkata dengan tegas bahwa aku korban kekerasan. Aliran konstruksi ini menimbulkan tekanan mental cukup besar dan mengakhiri hidup adalah salah satu jalan yang diambil, laki-laki Mendominasi sekitar 75% hingga 80% dari total kematian akibat bunuh diri di Indonesia. Analisis global dan nasional dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan kerentanan fatal yang lebih tinggi pada laki-laki karena metode yang digunakan cenderung mematikan.
Segala konstruksi sosial tersebut merupakan bentukan dibawah sistem kapitalisme melalui budaya, identitas dan hubungan antar manusia, agar sesuai dengan kebutuhan pasar dan akumulasi keuntungan. Sistem ini mengubah cara pandang masyarakat terhadap diri mereka sendiri, alam, dan sesama, di mana segalanya dinilai berdasarkan kegunaan ekonomi atau nilai tukar. Dari segala problem antar manusia, sistem kapitalisme adalah akar utamanya.
Konstruksi sistem pada manusia adalah hidup sesuai keuntungan pasar, salah satu jalanya melalui siklus pertanyaan yang tidak pernah habis, setelah melewati jenjang Pendidikan Menengah Atas berbagai pertanyaan dengan tekanan mulai bermunculan;
Kerja atau ke jenjang perkuliahan?, tidak sampai di situ siklusnya terus berlanjut.
Setelah kuliah, kapan kerja?, kapan menikah dan kapan punya anak?, dan setiap manusia yang di tanyai berharap mendapatkan pertanyaan “kapan mati?” hal yang disukai manusia manusia yang berharap bisa menyerah di bawah tekanan sistem.
Sialnya pertanyaan-pertanyaan dengan tekanan itu lumayan berdampak buruk pada perempuan, seolah memilih jenjang karier yang lama adalah suatu hal tabu dengan streotipe andalan “perempuan jika fokus bekerja dan masih abai pada pernikahan adalah hal buruk”, menikah di usia muda adalah hal buruk dan menikah di usia tua pun buruk pula. Lalu apa kabar dengan perempuan yang memilih tidak menikah, karena mengamati betapa menyeramkannya pernikahan jika salah memilih pasangan hidup?.
Tidak sampai di situ, Ketika memilih mengikuti siklus pertanyaan tersebut dengan menikah seusai bekerja atau kuliah maka muncullah pertanyaan kapan memilik anak?, jika tidak diberi kesempatan menimang anak maka perempuan pula yang disalahkan dan jika mempertahankan kehamilan diluar pernikahan, maka terbentuklah perempuan. Siklus pertanyaan kapan ini kapan itu mengalir, deras diikuti dengan tekanan keharusan untuk mematuhi dan jika tidak terkutuklah ia dari masyarakat pada umumnya.
Aliran deras pertanyaan itu juga merugikan laki-laki (toxic masculinity), kapan wisuda?, kapan kerja?, kapan menikah? Diikuti dengan penekanan
“laki-laki harus bertanggungjawab, memimpin tanpa mengeluh, Tanpa merasa kecil dan keharusan toxic masculinity lainnya”. Ketika tidak dipatuhi maka “bukan laki-laki lah ia”. Jika hidup dinegara yang hanya meyakini dua ekspresi gender; maskulin dan feminine, berdampak begitu buruk pada manusia yang ekspresinya maskulin dan fiminin yang diyakini sedari kecil, lalu bagaimana dengan manusia yang berekspresi tidak sesuai norma yang dikonstrukkan? Ekspresi yang sengaja mendobrak atau berada di luar kebiasaan standar peran gender di masyarakat.
Berdasarkan laporan organisasi masyarakat sipil seperti Arus Pelangi, tercatat ada 94 kasus kekerasan dengan 141 korban dari komunitas LGBT di Indonesia dalam kurun waktu 2024–2025. Angka ini mencakup berbagai spektrum diskriminasi hingga kekerasan langsung. Laporan kasus ini menggambarkan bagaimana negara dibawah sistem kapitalisme melanggengkan segala cara untuk mengakumulasi keuntungan, kekerasan dan diskriminasi yang menyasar ke kelas proletaria.
Problem kekerasan dan diskriminasi yang terjadi di nasional hingga internasional, dengan kapitalisme sebagai akarnya melalui dua perbedaan kelas borjuis dan proletar. Lalu bagaimana mengatasinya?
Berbagai elemen Gerakan dan individu berusaha mengatasinya dengan menciptakan lingkungan produktif untuk penyadaran, menjalankan berbagai program diskusi, lapak baca dan aksi masa.
Kita mengakui tahap awal dari menciptakan dunia tanpa penindasan adalah dengan penyadaran tersebut, namun hal itu tidaklah cukup tanpa organisasi revolusioner sampai ke partai revolusioner. Jika akar masalahnya adalah perbedaan kelas maka penghapusan kelas adalah jalannya, menumbangkan kelas kapitalis atau borjuis dan perebutan kekuasaan oleh proletar, menciptakan masyarakat sosialis sampai ke komune modern.



Tinggalkan Balasan