Halaman Sofifi—Pertandingan final Waisamola Cup I yang mempertemukan Terbit FC (Desa Laluin) melawan Ori Makurunga FC (Desa Ori Makurunga) di Desa Sagawele, Kecamatan Kayoa Selatan, berakhir ricuh pada Senin sore setelah kick-off dimulai pukul 16.15 WIT.

Menurut keterangan Samir, pemain Terbit FC, insiden bermula dari duel perebutan bola antara dirinya dan pemain Ori Makurunga FC, Fikar. Samir mengaku terjatuh akibat terdorong dari belakang, dan tangannya secara tidak sengaja mengenai wajah Fikar hingga memicu kesalahpahaman.

“Dia bilang saya menampar dia. Setelah wasit meniup peluit, saya berniat mendatangi dia untuk berjabat tangan, tetapi dia langsung emosi dan hendak memukul saya,” ujar Samir.

Situasi semakin tak terkendali ketika seorang suporter bernama Ikram yang juga ayah dari Fikar menerobos masuk ke dalam lapangan. Aksi tersebut memancing suporter lain ikut masuk hingga kerusuhan membesar.

Sejumlah orang dilaporkan menjadi korban penganiayaan. Bingo, adik dari Samir, mengaku dipukul saat berusaha melerai keributan.

“Saya masuk ke lapangan untuk melerai. Tiba-tiba ada pria yang memukul leher saya dari belakang. Saya sempat membalas, tetapi setelah itu saya langsung dikeroyok,” ungkap Bingo.

Ia menambahkan, beberapa suporter Terbit FC juga menjadi korban kekerasan. Salah satunya Karmil, yang mengalami luka cukup parah akibat dipukul di sudut lapangan.

Selain itu, Samir menyebut Rijal sempat memegang batu di tengah kericuhan.

“Rijal sempat memegang batu. Menurut saya, pemicu utama konflik ini adalah Ikram dan Rijal,” tegas Samir.

Hingga berita ini diturunkan, awak media masih mengupayakan konfirmasi resmi dari panitia pelaksana, pihak Ori Makurunga FC, serta kepolisian setempat.