HALTIM-Upaya keras Kepolisian Daerah Maluku Utara dan Polres Halmahera Timur dalam menjaga stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) tercoreng oleh insiden memuakkan yang melibatkan oknum pejabat daerah.

Pesta pernikahan putra Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perindakop) Kabupaten Halmahera Timur, Riko Debeturu, berakhir dengan bentrokan hebat antar-kelompok pemuda pada Sabtu (11/04/), setelah pihak penyelenggara diduga kuat mengabaikan instruksi kepolisian mengenai pembatasan hiburan malam.

Rangkaian acara yang semula berlangsung khidmat pada siang hari mendadak berubah menjadi petaka saat hiburan malam berupa pesta ronggeng dipaksakan tetap berlangsung hingga larut malam. Tepat pukul 00:00 WIT, situasi di lokasi acara berubah mencekam ketika bentrokan pecah melibatkan kelompok pemuda dari Desa Kakara Ino, Desa Gamlaha, serta pemuda asal Desa Kakara Pulau, Halmahera Utara, dengan keterlibatan oknum pemuda dari Desa Labi-Labi.

Tragedi ini dipicu oleh aksi pengeroyokan brutal terhadap seorang pemuda asal Hatetabako yang memancing reaksi kelompok lainnya hingga kerusuhan meluas di bawah tenda acara.

Ironisnya, sorotan tajam tidak hanya tertuju pada penyelenggaraan acara yang tidak peka situasi, namun juga pada perilaku Riko Debeturu. Dalam rekaman video berdurasi 1 menit 30 detik yang beredar luas, oknum Kadis yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans tersebut diduga bukannya melerai massa, melainkan justru ikut menarik dan memukul korban di tengah amukan warga.

Tindakan ini memicu kecaman keras dari alumni mahasiswa Jakarta, Dimas Naurikada Totomo, yang menilai sikap sang pejabat sangat kontradiktif dan mencederai semangat perdamaian di Bumi Fagogoru.

Dimas menegaskan bahwa sebagai pejabat publik, Riko seharusnya berada di garda terdepan dalam mendukung mitigasi konflik, bukan justru menjadi fasilitator munculnya kekacauan. Ia menganggap kejadian ini sebagai tamparan keras bagi pihak kepolisian, mengingat sebelumnya Kapolres Halmahera Timur telah mengimbau secara lisan agar seluruh elemen masyarakat menjaga kondusivitas dan mengedepankan dialog. Namun, pihak penyelenggara justru dianggap membuka ruang anarki melalui hiburan malam yang tidak terkontrol.

Atas insiden ini, Dimas mendesak Polres Halmahera Timur untuk bertindak tegas tanpa pandang bulu terhadap siapapun yang terlibat, termasuk aktor intelektual dan pelaku penganiayaan.

Ia meminta kepolisian segera melakukan penangkapan guna memberikan kepastian hukum dan mengevaluasi kepatuhan pejabat publik terhadap aturan keamanan wilayah.

Hingga berita ini diterbitkan, Riko Debeturu belum memberikan respons atas konfirmasi media, sementara pihak Polres Halmahera Timur belum mengeluarkan keterangan resmi terkait penanganan kasus tersebut.