HALTIM- Di tengah kerja keras Kepolisian Daerah Maluku Utara dan Polres Halmahera Timur dalam memperkuat stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), sebuah insiden ironis justru mencuat.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perindakop) Kabupaten Halmahera Timur diduga kuat mengabaikan instruksi kepolisian dengan memaksakan perhelatan pesta ronggeng pada malam pernikahan putranya, yang berujung pada bentrokan hebat antar-kelompok pemuda.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa rangkaian acara pernikahan yang semula berlangsung khidmat di siang hari, berubah menjadi petaka saat hiburan malam dimulai. Memasuki pukul 00:00 WIT, situasi mendadak mencekam. Bentrokan pecah melibatkan kelompok pemuda dari Desa Kakara Ino, Desa Gamlaha, serta pemuda asal Desa Kakara Pulau, Halmahera Utara. Selain itu, teridentifikasi adanya keterlibatan dua oknum pemuda dari Desa Labi-Labi, Kecamatan Wasile Utara.
Tragedi ini dipicu oleh aksi pengeroyokan brutal terhadap seorang pemuda asal Hatetabako yang memancing reaksi kelompok lainnya hingga bentrokan meluas. Sorotan tajam kini tertuju pada Kadis Perindakop Haltim selaku penyelenggara acara. Sebagai pejabat publik, tindakannya menggelar keramaian di tengah situasi yang rawan dianggap tidak peka terhadap upaya cipta kondisi yang sedang dibangun aparat keamanan.
Kecaman keras datang dari alumni mahasiswa Jakarta, Dimas Naurikada Totomo. Ia menilai tindakan Kadis Perindakop sangat kontradiktif dan mencederai semangat perdamaian di Bumi Fagogoru.
“Selaku pejabat publik, beliau seharusnya berdiri di garda terdepan dalam mendukung mitigasi konflik, bukan justru menjadi fasilitator munculnya kekacauan. Ini adalah bentuk pengabaian terhadap tanggung jawab moral kepada masyarakat,” tegas Dimas.Sabtu (11/4/26)
Dimas menambahkan bahwa sebelumnya Kapolres Halmahera Timur secara lisan telah mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menjaga situasi tetap kondusif dan tidak terprovokasi isu-isu yang berkembang. Dalam arahannya, Kapolres menekankan bahwa setiap persoalan harus diselesaikan melalui dialog dan koordinasi sinergis antara pemerintah, aparat, dan warga.
“Kejadian ini jelas tamparan keras bagi upaya kepolisian. Saat Kapolres meminta kita mengedepankan dialog untuk mencegah konflik sosial, pihak penyelenggara justru membuka ruang bagi terjadinya tindakan anarkis melalui hiburan malam yang tidak terkontrol,” lanjutnya.
Menutup pernyataannya, Dimas mendesak pihak kepolisian untuk tidak ragu dalam menindak tegas siapapun yang terlibat. Ia meminta agar aktor-aktor di balik penganiayaan serta dalang kerusuhan segera ditangkap guna memberikan kepastian hukum dan efek jera, sekaligus mengevaluasi kepatuhan pejabat publik terhadap aturan keamanan wilayah.

Tinggalkan Balasan