TIDORE-Momentum Idul Fitri yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan justru ternoda oleh insiden bentrokan antarpemuda di wilayah Oba, Kota Tidore Kepulauan. Tawuran yang melibatkan pemuda Desa Bale dan Desa Koli tersebut mengakibatkan kerusakan pada sejumlah rumah warga di Desa Koli akibat lemparan batu. Minggu (22/3/26)
Mirisnya, berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, diduga terdapat dua oknum anggota Polri yang terlibat aktif dalam insiden tersebut. Oknum tersebut berinisial F. Hi. K yang bertugas di Polres Halmahera Tengah dan DSA yang bertugas di Polsek Payahe. Keduanya diduga bukan hanya berada di lokasi, melainkan ikut serta bahkan memprovokasi terjadinya bentrokan yang lebih besar.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Maluku Utara, Serjan H. Rivai, mengutuk keras keterlibatan aparat penegak hukum dalam tindakan anarkis tersebut. Menurutnya, kehadiran polisi di tengah masyarakat seharusnya menjadi penengah dan pemberi rasa aman, bukan justru menjadi bagian dari konflik.
“Kami sangat menyayangkan dan mengecam keras keterlibatan oknum anggota polisi dalam tawuran tersebut. Idul Fitri adalah hari yang suci, namun dinodai oleh tindakan yang tidak terpuji. Sebagai aparat, mereka seharusnya membubarkan dan mengamankan situasi, bukan malah ikut memprovokasi massa,” tegas Serjan.
Lebih lanjut, Tindakan oknum polisi ini telah mencoreng institusi Polri di mata masyarakat. Kami mendesak Kapolda Maluku Utara melalui Propam untuk mengusut tuntas kasus ini. Jika terbukti bersalah dan ikut memprovokasi, mereka harus diberikan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku.

Tinggalkan Balasan