TERNATE-Evakuasi medis perdana menggunakan ambulans laut Andalan BAHIM dari Pulau Moti menuju RSUD Chasan Boesoirie yang dipublikasikan sebagai capaian pemerintah, justru menuai kritik pedas dari pemuda Moti, Muis Ade. Senin (30/3/26).

Muis menilai narasi “perdana” yang digaungkan Dinas Kesehatan Kota Ternate merupakan pengakuan telanjang atas kelalaian sistemik, mengingat fasilitas tersebut sudah diadakan sejak Oktober 2025 namun baru difungsikan berbulan-bulan kemudian di tengah kebutuhan rujukan warga yang terus mendesak.

Muis menegaskan bahwa klaim Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma, yang menyebut layanan ini “aman dan merata” adalah pernyataan konyol yang menyesatkan dan tidak sesuai dengan realitas lapangan.

Menurutnya, mustahil satu unit ambulans laut mampu melayani tiga kecamatan kepulauan sekaligus, yakni Batang Dua, Hiri, dan Moti (BAHIM), yang secara geografis terpencar luas. Ia menekankan bahwa skema yang hanya bertumpu pada satu armada tunggal justru melahirkan ketimpangan baru, di mana saat satu wilayah dilayani, wilayah lain dipaksa menunggu dalam kondisi gawat darurat yang mempertaruhkan nyawa masyarakat.

Kerapuhan sistem ini semakin nyata dalam kasus pasien anak berusia 6 tahun asal Kelurahan Moti Kota yang harus dirujuk dalam kondisi kritis akibat dugaan keracunan obat MDT. Pasien yang mengalami sesak napas dan pucat tersebut menjadi korban dari lemahnya pengawasan limbah medis, di mana obat-obatan rusak ditemukan anak-anak di tempat pembuangan umum dan dikonsumsi secara tidak sengaja.

Muis menyoroti bahwa insiden ini membuktikan adanya celah pengawasan yang sangat berbahaya dan menunjukkan kegagalan dinas terkait dalam memberikan edukasi mengenai prosedur pembuangan obat kadaluwarsa kepada masyarakat.

Lebih lanjut, Muis menyatakan bahwa ketergantungan pada satu unit ambulans laut dengan pola “menunggu dan dijemput” membuktikan ketidakseriusan Pemerintah Kota Ternate dalam melindungi warga di wilayah kepulauan terluar.

Kondisi geografis BAHIM yang menantang membuat skema rujukan saat ini tidak hanya tidak efektif, tetapi juga memiliki risiko tinggi bagi keselamatan pasien. Ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh dan melakukan penambahan dua unit armada ambulans laut agar masing-masing kecamatan memiliki unit yang siaga di tempat.

Sebagai penutup, Muis memperingatkan bahwa tanpa adanya penambahan armada dan perbaikan sistem pengawasan limbah medis, konsep pelayanan cepat dan merata hanya akan menjadi omong kosong belaka.

Ia menegaskan bahwa evakuasi perdana tersebut bukanlah simbol keberhasilan, melainkan pembuka tabir kegagalan sistemik yang selama ini tersembunyi. Jika tidak segera dibenahi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas pelayanan publik, melainkan nyawa masyarakat BAHIM itu sendiri.