Halmahera Selatan-Perairan Pigaraja, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali diguncang aksi pengeboman ikan. Rentetan ledakan keras terdengar jelas hingga ke pemukiman warga pada Selasa (20/10/2026) sekitar pukul 17.15 WIT.

Kondisi maraknya destructive fishing ini memicu keresahan warga dan pemuda setempat karena merusak terumbu karang serta mengancam mata pencaharian nelayan pancing tradisional.

Saat dikonfirmasi media, Seorang Mahasiswa yang pernah magang di Desa Pigaraja, Muhammad Mayzul, membenarkan adanya rentetan ledakan yang terjadi menjelang magrib tersebut.

“Suara ledakannya keras sekali dan terdengar sampai ke daratan. Ini sangat dekat, tapi anehnya tidak ada tindakan dari aparat,” kata Mayzul, Rabu (21/10/2026).

Mayzul menegaskan, aparat penegak hukum dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan tidak boleh tinggal diam atau sekadar menggelar patroli musiman

Ia meminta penanganan hukum tidak hanya menyasar nelayan kecil di lapangan, tetapi juga membongkar jaringan pemodal di baliknya.

“Kalau cuma tangkap nelayan kecil yang terdesak perut, masalah ini tidak akan selesai. Tangkap cukongnya dan usut dari mana bahan bom itu masuk. Itu akar masalahnya,” tegasnya.

Dampak dari pengeboman ikan tersebut kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir. Terumbu karang yang hancur membuat hasil tangkapan nelayan tradisional merosot drastis.

Mayzul meminta pemerintah segera turun tangan dan meningkatkan pengawasan di Perairan Pigaraja sebelum kerusakan ekosistem laut menjadi makin parah.

“Alasan klasik seperti kurang armada patroli sudah usang. Negara harus tegas hadir melindungi laut kami, jangan sampai kalah dengan mafia bom ikan,” pungkas Mayzul.