OPINI-Dunia yang kita tempati sekarang adalah sebuah mahakarya ilusi. Kita hidup dalam zaman di mana rantai fisik telah digantikan oleh rantai psikologis. Jika dulu seorang budak tahu siapa tuannya, hari ini “budak modern” sering kali memuja tuannya dan bercita-cita menjadi seperti mereka, tanpa sadar bahwa sistemnya telah dirancang untuk memastikan mereka tidak akan pernah sampai ke sana.

Kita sering menganggap pendidikan sebagai tangga mobilitas sosial. Namun, sosiolog Pierre Bourdieu pernah mengingatkan tentang Modal Budaya. Anak dari keluarga kaya tidak hanya punya uang; mereka punya bahasa, koneksi, dan rasa percaya diri yang tidak dimiliki anak miskin.

Ijazah dari universitas ternama sering kali bukan sekadar bukti ilmu, melainkan filter untuk menjaga agar “orang luar” tetap di luar. Ketika syarat administratif menjadi tembok yang tak tertembus bagi mereka yang harus bekerja sejak remaja, maka “kesempatan yang sama” hanyalah slogan kosong di brosur seminar motivasi.

Hari ini apa yang kita sebut sebagai Teknologi, yang semula dijanjikan sebagai alat demokratisasi informasi, kini berubah menjadi alat segregasi. Algoritma media sosial tidak peduli pada kebenaran; ia hanya peduli pada engagement.

Apa yang paling cepat memicu interaksi? Kemarahan dan kebencian identitas. Di saat masyarakat bawah sibuk berdebat di Twitter atau TikTok mengenai siapa yang paling suci atau siapa yang paling nasionalis, di latar belakang, kebijakan-kebijakan yang merampas ruang hidup mereka disahkan dengan ketukan palu yang sunyi. Kita sedang menyaksikan sebuah teater pengalihan isu skala kolosal yang didanai oleh data kita sendiri.

Kenapa revolusi jarang terjadi di masyarakat modern? Karena kita terlalu lelah untuk melawan. Kita dipaksa bekerja melampaui batas untuk mengejar standar hidup yang didefinisikan oleh iklan Kita mencicil barang-barang yang tidak kita butuhkan untuk mengesankan orang-orang yang tidak kita sukai.

Ini adalah bentuk kontrol sosial yang jenius. Orang yang terjebak utang dan obsesi pada citra diri tidak akan punya energi untuk mempertanyakan struktur kekuasaan. Mereka akan menyalahkan diri sendiri, merasa “kurang kerja keras”, padahal mereka sedang berlari di roda putar tikus yang memang tidak memiliki garis finish.

Salah satu keberhasilan terbesar sistem yang menindas adalah kemampuan mereka membungkus ketidakadilan sebagai “nasib”.Miskin itu cobaan dan Kesenjangan itu hukum alam.”

Ini adalah racun pikiran. Kemiskinan sistemik bukan hukum alam seperti gravitasi; ia adalah hasil dari kebijakan fiskal, monopoli sumber daya, dan upah yang tidak layak. Menyebutnya sebagai takdir adalah cara paling efektif untuk mematikan api perlawanan sebelum ia sempat menyala.

Perlawanan tidak selalu berarti kerusuhan. Perlawanan yang paling menakutkan bagi penguasa adalah rakyat yang terdidik dan bersatu secara organik. Perlawanan berarti berani berkata “tidak” pada standar sukses versi pasar. Perlawanan berarti membangun komunitas mandiri yang tidak bergantung pada belas kasihan elit. Dan yang paling penting, perlawanan berarti menolak untuk membenci sesama rakyat kecil hanya karena perbedaan identitas yang sengaja digosok oleh mereka yang di atas.

Selama kita masih bisa melihat bahwa “musuh” kita bukanlah tetangga yang berbeda agama, melainkan sistem yang membiarkan segelintir orang menguasai 90% kekayaan negara, maka harapan itu masih ada. Suara dari bawah harus berhenti meratap, dan mulai menggelegar

 

Ditulis oleh: Kristiani Loda, Gatur Kasuba, dan Martince Lifu

Tugas Ujian Semester Tengah

Mata Kuliah Pengantar Sosiologi