Ternate-Nama Universitas Khairun (Unkhair) Ternate bergema di kancah internasional melalui ajang bergengsi AsiaTEFL Conference ke-23. Adalah Suratman Dahlan, dosen Unkhair sekaligus kandidat doktor Universitas Negeri Makassar, yang berhasil mencuri perhatian para pakar bahasa se-Asia melalui riset visionernya tentang masa depan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam dunia pendidikan.
Pers Reals yang diterima Jurnalis Halamansofifi, Minggu (21/12/25). Ajang Konferensi yang dihelat di The Education University of Hong Kong (EdUHK) pada 11–13 Juli 2025 ini mengusung tema besar: “Care, Innovation, and Sustainability in English Language Teaching (ELT)”. Di hadapan ratusan akademisi dari berbagai belahan dunia, Suratman membawa misi penting: mendefinisikan ulang wajah pendidikan bahasa Inggris di Indonesia.
Wajib dibaca: https://halamansofifi.id/2025/12/12/dugaan-penipuan-jual-beli-tanah-di-ternate-oknum-eks-tni-diduga-jual-lahan-milik-orang-lain-pembeli-terancam-bongkar-rumah/
Dalam makalahnya yang berjudul “Redefining English Language Learning in Indonesia: The Impact of Artificial Intelligence on Pedagogy and Practice”, Suratman membedah bagaimana AI mulai mengubah cara siswa Indonesia belajar bahasa Inggris—mulai dari asisten digital hingga platform pembelajaran adaptif.
Namun, ia membawa pesan yang sangat humanis dan “menyinggung” tren ketergantungan teknologi yang kebablasan.
“AI memang memiliki potensi luar biasa dalam personalisasi materi, tapi AI tidak boleh dipahami sebagai pengganti peran guru. Guru tetaplah sentral sebagai fasilitator dan penanam nilai kemanusiaan yang tidak dimiliki oleh algoritma mana pun,” ungkapnya
Kehadiran Suratman menjadi bukti nyata bahwa inovasi akademik tidak hanya lahir dari kota-kota besar. Kontribusi ilmiah dari Ternate ini membuktikan bahwa akademisi dari wilayah kepulauan mampu berbicara lantang di panggung global, bersaing dengan peneliti dari negara-negara maju seperti Jepang, Korea, dan Singapura.
Risetnya juga tak segan-segan menyoroti “lubang” dalam implementasi teknologi di tanah air, seperti kesenjangan akses digital dan kesiapan mental para pendidik. Ia mendesak adanya kebijakan komprehensif agar penggunaan AI di sekolah-sekolah Indonesia berjalan adil dan tidak memperlebar jurang pendidikan.
Presentasi Suratman memicu dialog lintas budaya yang hangat. Sejumlah peserta internasional memberikan apresiasi atas perspektif “Human-Centered AI” yang dibawakannya.
Mereka menilai gagasan Suratman sangat relevan dengan pilar Care (Kepedulian) dalam tema konferensi tahun ini memastikan teknologi tidak mengabaikan sisi emosional peserta didik.
Keikutsertaan Suratman dalam ajang ini bukan sekadar ajang pamer riset, melainkan jembatan kolaborasi.
Dengan jejaring internasional yang dibangun di Hong Kong, peluang kerja sama riset dan publikasi bersama antar-universitas di Asia kini terbuka lebar bagi Unkhair Ternate.
Bagi dunia pendidikan di Maluku Utara, prestasi ini adalah suntikan semangat. Bahwa masa depan pengajaran bahasa Inggris yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan kini sedang dirancang dan salah satu arsiteknya adalah putra daerah dari Halamhera Selatan.

Tinggalkan Balasan