Uzbekistan-Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Indonesia resmi memulai langkah strategis ekspansi global melalui kunjungan kerja ke Republik Uzbekistan. Lawatan ini bertujuan menjajaki kolaborasi akademik internasional sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi berbasis Nahdliyin di kancah dunia.
Delegasi yang terdiri dari jajaran rektor perguruan tinggi NU se-Indonesia ini disambut langsung oleh Duta Besar luar biasa dan berkuasa penuh (LBBP) RI untuk Uzbekistan, Prof. Siti Ruhaini Dzuhayatin, di Kantor KBRI Tashkent.
Representasi Indonesia Timur di Jalur Sutra
Salah satu tokoh kunci dalam delegasi ini adalah Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA), Dr. M. Nasir Tamalene, yang hadir mewakili LPTNU wilayah Indonesia Timur. Kehadirannya menegaskan bahwa semangat go-global tidak hanya didominasi oleh kampus di Pulau Jawa, tetapi juga menyentuh pelosok nusantara.
Dalam dialog strategis tersebut, Dr. M. Nasir Tamalene memaparkan urgensi transformasi kurikulum yang berorientasi pada wawasan global. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi NU harus memiliki mentalitas kompetitif untuk mengisi pos-pos strategis di tingkat internasional.
“Lulusan UNUTARA ke depan tidak boleh hanya jago di kandang. Mereka harus dipersiapkan untuk berkontribusi di level nasional hingga mancanegara, khususnya di kawasan Asia Tengah yang sedang berkembang pesat,” tegas M. Nasir, Rabu (4/2/26).
Peluang Emas Tenaga Pendidik Sains
Salah satu poin penting yang muncul dalam pertemuan tersebut adalah tingginya kebutuhan tenaga pendidik asal Indonesia di Uzbekistan. Sekolah-sekolah internasional di wilayah tersebut dilaporkan tengah mencari guru-guru bidang Sains (IPA) yang kompeten.
“Ini peluang nyata. Namun, syarat utamanya adalah penguasaan bahasa Inggris yang mumpuni. Generasi muda kita harus siap menjemput bola,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Dubes RI Prof. Siti Ruhaini Dzuhayatin menekankan bahwa LPTNU memiliki tanggung jawab besar untuk mencetak tenaga pendidik berwawasan global.
Ia mendorong adanya kolaborasi terintegrasi antar PTNU di seluruh Indonesia untuk memenuhi standar kualifikasi internasional tersebut.
Mempererat Mobilitas Akademik
Kunjungan ini diharapkan segera membuahkan hasil konkret, mulai dari program student exchange (pertukaran mahasiswa), riset kolaboratif, hingga mobilitas akademik dosen.
Rektor UNUTARA kembali menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukanlah minimnya kesempatan, melainkan kesiapan adaptasi. “Kuncinya adalah kemauan generasi kita untuk maju dan berani beradaptasi dengan dinamika global yang sangat cepat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan