Ternate-Dugaan tindakan kekerasan terhadap anak di bawah umur kembali terjadi di lingkungan pendidikan. Seorang oknum keamanan sekolah di SDN 32 Kalumata Galian, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, berinisial (W) alias Warno Sudin, diduga melakukan tindakan represif dengan menyeret seorang siswi kelas 5 sejauh kurang lebih 10 meter.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi kasar tersebut dilakukan dari depan ruang kelas 5 menuju ruang kantor sekolah.

Ironisnya, tindakan menyeret siswi perempuan tersebut dilakukan dari Kelas 5 melewati lapangan upacara menuju Kantor sekolah. Akibat perlakuan tersebut, korban mengalami luka gores pada tangan dan pembengkakan pada bagian kaki.

Pasca kejadian, korban yang dalam kondisi syok dan menangis dilaporkan nekat berjalan kaki meninggalkan sekolah menuju tempat ibunya berjualan. Di tengah perjalanan, seorang warga yang merasa iba melihat kondisi korban kemudian mengamankannya dan membawa siswi tersebut ke Polsek Ternate Selatan untuk mendapatkan perlindungan.

Pihak kepolisian kemudian merespons dengan memanggil orang tua korban, oknum pelaku (W), serta pihak manajemen SDN 32 Kota Ternate guna dimintai keterangan lebih lanjut.

Namun, kasus ini ternyata mengungkap fenomena yang suram terkait dugaan perundungan di sekolah SDN 32.

Penelusuran media melalui sumber-sumber terdekat mengungkapkan bahwa korban saat ini mengalami trauma mendalam. Ironisnya, korban diduga sering menjadi sasaran perundungan (bullying) yang justru dilakukan oleh wali kelasnya sendiri.

Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di kota Ternate, mengingat SDN 32 Kota Ternate merupakan sekolah yang pernah dikunjungi oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, dalam agenda program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Sekolah tersebut kini diduga menyimpan catatan panjang terkait kekerasan terhadap siswa maupun intimidasi terhadap orang tua wali. Informasi yang dikumpulkan menyebutkan sederet kasus serupa pernah terjadi, mulai dari dugaan bullying oleh oknum operator sekolah terhadap siswi (yang kini sudah duduk di bangku SMP), hingga tindakan kepala sekolah aktif saat ini diduga merundung siswi lantaran orang tuanya melaporkan kekerasan ke Ombudsman RI Perwakilan Maluku Utara.

Terkait kasus penyeretan siswi oleh oknum (W), hingga berita ini diturunkan, belum ada perkembangan hukum yang signifikan di Polsek Ternate Selatan. Informasi terakhir yang dikantongi media menyebutkan adanya dugaan kuat bahwa oknum pihak Polsek Ternate Selatan yang menangani perkara ini berupaya mengarahkan kasus ke jalur damai antara pelaku dan orang tua korban.

Hingga publikasi ini dirilis, belum ada pernyataan resmi dari pihak Polsek Ternate Selatan mengenai status hukum laporan tersebut maupun langkah perlindungan terhadap korban yang kini masih didera trauma.