Halamansofifi-Di ruang-ruang kelas kita, pembelajaran Bahasa Indonesia sering kali berjalan sangat rapi, namun terasa dingin. Siswa membaca teks, membedah struktur, menjawab pertanyaan, lalu menunggu penilaian. Semuanya tampak tertib di atas kertas. Namun, di balik keteraturan itu, ada satu hal fundamental yang sering luput: apakah siswa benar-benar mengalami proses pemaknaan, atau sekadar menunaikan tugas administratif?
Fenomena ini jamak ditemukan. Tidak sedikit siswa yang fasih menjelaskan tema cerpen atau gagasan utama artikel, tetapi mendadak gagap ketika diminta mengaitkannya dengan pengalaman hidup mereka sendiri. Mereka memahami teks sebagai benda mati, namun tidak terbiasa berdialog dengannya. Akibatnya, Bahasa Indonesia perlahan kehilangan daya hidupnya; ia berubah menjadi mata pelajaran prosedural yang kaku, bukan lagi ruang bagi manusia untuk mencari makna.
Padahal, Bahasa Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih luhur. Ia bukan sekadar alat uji kompetensi atau barisan tata bahasa, melainkan medium bagi manusia untuk memahami diri dan dunianya. Terlebih bagi remaja yang sedang berada di persimpangan fase pencarian jati diri dan kegelisahan eksistensial, bahasa seharusnya menjadi kompas.
Ironisnya, mata pelajaran yang paling dekat dengan denyut kehidupan justru jarang digunakan untuk membicarakan kehidupan itu sendiri.
Kesenjangan ini menunjukkan adanya jarak lebar antara praktik pembelajaran dengan kebutuhan psikologis peserta didik. Pembelajaran kita masih didominasi pendekatan tekstual-kognitif yang mekanistik, sementara dimensi reflektif dan humanistik cenderung terpinggirkan. Teks diperlakukan sebagai objek laboratorium untuk dianalisis, bukan sebagai cermin pengalaman.
Dalam perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre, manusia dipahami sebagai subjek yang membentuk makna hidupnya melalui kesadaran. Manusia tidak dilahirkan dengan esensi yang sudah jadi; manusialah yang memberi warna pada keberadaannya melalui tindakan dan refleksi. Jika pandangan ini ditarik ke ruang kelas, maka siswa seharusnya diposisikan sebagai “pencipta makna”, bukan sekadar “penerima makna”.
Membaca cerpen, misalnya, tidak boleh berhenti pada penemuan konflik dan amanat di atas kertas. Ia harus melompat menjadi pertanyaan reflektif yang personal: Bagian mana yang menyentuh luka saya? Nilai apa yang sedang saya pertanyakan? Sikap tokoh mana yang jujur saya tolak? Di titik inilah bahasa menjadi jembatan batin yang menghubungkan teks dengan realitas personal siswa.
Sayangnya, ruang tafsir ini sering kali disempitkan. Jawaban yang berbeda dari kunci jawaban kerap dianggap sebagai penyimpangan. Guru, secara sadar atau tidak, sering memosisikan diri sebagai pemilik tunggal kebenaran makna. Dampaknya sistemis: siswa belajar “bermain aman” demi nilai, bukan berpikir jujur. Mereka terbiasa menjawab, tapi tumpul dalam berpendapat.
Oleh karena itu, inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis refleksi eksistensial menjadi mendesak. Pendekatan ini menggeser orientasi pembelajaran: dari sekadar memahami apa isi teks menuju pemaknaan apa relevansi teks bagi hidupku. Teks sastra, opini, hingga berita aktual diposisikan sebagai pemantik api refleksi. Siswa tidak lagi belajar tentang aturan bahasa di ruang hampa, melainkan mengalami bahasa yang hidup.
Tentu, inovasi ini tidak meniadakan pentingnya struktur dan kaidah kebahasaan. Tata bahasa dan keterampilan membaca tetap krusial. Namun, semua perangkat teknis itu akan jauh lebih bernilai jika ditempatkan dalam kerangka pemaknaan. Struktur bahasa tidak boleh berdiri sendiri; ia harus mengabdi pada upaya manusia dalam memahami dirinya.
Di tengah gempuran krisis identitas dan kecemasan sosial remaja saat ini, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran strategis. Ia bisa menjadi “ruang aman” bagi siswa untuk berpikir, merasakan, dan menafsirkan hidupnya.
Sudah saatnya kita bergerak: dari sekadar membaca teks menuju membaca diri. Dari sekadar memahami kata menuju memahami makna. Dari sekadar menjawab soal menuju menyusun kesadaran. Di sanalah Bahasa Indonesia akan menemukan kembali wajah sejatinya: sebagai pelajaran yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga memanusiakan jiwa.
Opini Ditulis Oleh: Irfan Efendi MPBI – Universitas Muhammadiyah Malang, tulisan ini sepenuhnya dibawa Tanggu

Tinggalkan Balasan