Ternate-Ada yang berbeda dari gaya kepemimpinan di Kelurahan Akehuda, Kota Ternate. Jika biasanya sosialisasi program pemerintah terkesan kaku dan formal, Lurah Akehuda, Farida Saleh Pora, memilih jalan yang lebih kekinian. Melalui akun TikTok pribadinya, ia menyulap media sosial menjadi senjata ampuh untuk sosialisasi sekaligus ruang lapor bagi warga.
Tidak hanya aktif di dunia maya, Farida dikenal sebagai sosok yang “bernyali” di lapangan. Ia memimpin langsung berbagai operasi pemberantasan Penyakit Masyarakat (Pekat), mulai dari razia pasangan di luar nikah (kumpul kebo) hingga penggerebekan anak-anak muda yang kedapatan mengonsumsi minuman keras (miras).
Kepada media, Farida membeberkan bahwa strategi digital ini diambil karena efektivitasnya dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Zaman sudah berubah. Kalau saya hanya menunggu di kantor atau sekadar sosialisasi lewat pengeras suara, pesannya sering tidak sampai, terutama ke generasi muda. TikTok itu jembatan,” ujarnya, Jumat (17/1/2026).
Menurutnya, melalui video singkat, ia bisa menunjukkan transparansi kegiatan kelurahan hingga keseharian sebagai pemimpin wilayah.
“Saya ingin warga merasa tidak ada jarak dengan lurahnya,” tambahnya.
Meski terlihat ramah di media sosial, Farida tidak main-main soal ketertiban wilayah. Ia mengaku sering turun langsung ke lokasi-lokasi rawan pada malam hari.
“Rasa takut itu manusiawi, tapi tanggung jawab saya jauh lebih besar. Akehuda ini rumah kita. Saya sedih melihat anak-anak muda kita rusak karena miras, atau lingkungan menjadi tidak sehat karena praktik kumpul kebo. Sosialisasi di TikTok itu pendekatan ‘soft’-nya, tapi kalau sudah menyangkut pelanggaran norma, saya harus tindak tegas secara fisik di lapangan,” tegasnya.
Menariknya, saat melakukan penggerebekan, Farida menggunakan pendekatan persuasif layaknya seorang orang tua.
“Saya dekati mereka seperti seorang ibu kepada anaknya. Saya katakan: ‘Kalian ini masa depan Akehuda, kalau hari ini sudah dirusak alkohol, besok mau jadi apa?’. Saya ingin mereka malu karena kasih sayang, bukan sekadar takut karena jabatan saya. Namun, jika sudah berulang kali, tidak ada kompromi. Aturan harus tegak demi ketenangan warga,” lanjut Farida.
Aksi nyata ini awalnya sempat membuat para pelaku pelanggaran terkejut. Namun, hal itu justru memicu gelombang dukungan dari masyarakat luas. Banyak warga kini beralih menggunakan media sosial untuk membantu kerja kelurahan.
“Awalnya mereka kaget, ‘Kok ada Lurah malam-malam begini?’. Tapi itulah tujuannya, agar warga tahu pemerintah hadir. Menariknya, sejak saya aktif di medsos, banyak warga yang justru memberi info lewat DM (Direct Message) jika ada hal mencurigakan. Jadi, TikTok ini juga jadi alat intelijen warga,” tuturnya sembari tertawa.
Menutup perbincangan, Farida berharap Akehuda bisa menjadi contoh kelurahan yang harmonis antara kemajuan teknologi dan ketaatan norma. Ia juga menitipkan pesan mendalam bagi para orang tua.
“Saya ingin Akehuda aman, bersih, dan warganya melek teknologi. Saya juga berpesan kepada orang tua, tolong jaga anak-anak kita. Pengawasan terbaik ada di meja makan rumah masing-masing. Jangan sampai saya yang lebih dulu tahu anak Bapak/Ibu tertangkap razia daripada orang tuanya sendiri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan