Ternate-Pelaksanaan seleksi Petugas Haji Daerah (PHD) Provinsi Maluku Utara tahun 2026 menuai sorotan tajam. Hasil seleksi yang tertuang dalam pengumuman nomor: 02/PANPELPHD/2026 tersebut dinilai bermasalah dan berpotensi berdampak masif terhadap kualitas pelayanan jemaah haji di tanah suci.

Akademisi IAIN Ternate, Dr. Arwan M. Said, secara terbuka mengkritik keputusan Panitia Seleksi dari Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Maluku Utara. Menurutnya, terdapat anomali dalam hasil kelulusan di mana peserta dengan skor rendah dan minim kecakapan bahasa Arab justru dinyatakan lolos. Sebaliknya, peserta dengan nilai tinggi dan pengalaman mumpuni malah tersingkir.

Arwan menegaskan bahwa sistem Computer Assisted Test (CAT) dan wawancara seharusnya menjadi instrumen untuk menjaring petugas yang profesional, berintegritas, dan kompeten.

“Seleksi bukan dijadikan sebagai ruang kompromi kepentingan, kedekatan personal, atau pertimbangan non-teknis yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik,” tegas Arwan, Sabtu (24/1).

Ia menambahkan bahwa petugas haji bukan sekadar pendamping biasa, melainkan pelayan tamu Allah (Dhuyufurrahman) yang memikul amanah berat selama 24 jam penuh. Menurutnya, meloloskan petugas tanpa kecakapan bahasa Arab adalah langkah yang membahayakan jemaah.

“Jika jemaah sakit, berada dalam kondisi darurat, atau terpisah dari rombongan, keselamatan mereka sangat bergantung pada petugas yang cakap berkomunikasi bahasa Arab untuk mengatasi risiko di lapangan,” jelasnya.

Atas dasar tersebut, Arwan mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap panitia seleksi. Ia bahkan meminta agar oknum yang terbukti meloloskan peserta tidak kompeten segera dicopot dari jabatannya guna menjaga marwah pelayanan haji yang objektif, transparan, dan akuntabel.

Di sisi lain, Kepala Kanwil Haji dan Umrah Maluku Utara, Jabir Wahid, memberikan klarifikasi. Saat dikonfirmasi via WhatsApp, Jabir mengeklaim bahwa seluruh proses seleksi telah dijalankan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Meski demikian, Jabir mengakui kualitas peserta yang tidak lulus namun memiliki pengalaman luas dalam pelayanan haji.

“Yang bersangkutan memang sudah tidak diragukan lagi soal pelayanan jemaah haji, hanya saja dalam hasil tes dari jumlah peserta yang ikut, hanya dua orang dengan nilai tertinggi yang direkrut,” pungkas Jabir.