Ternate-Akademisi Universitas Khairun (Unkhair), Muamil Sunan, memberikan kritik keras terhadap perilaku rombongan Kepala Sekolah (Kepsek) SD asal Kecamatan Ternate Selatan yang kedapatan melakukan perjalanan ke luar daerah (Yogyakarta) di saat kegiatan belajar mengajar (KBM) masih aktif.
Muamil menegaskan bahwa seorang Kepala Sekolah memegang peranan krusial sebagai pemimpin pendidikan yang seharusnya menjadi motivator dan teladan bagi lingkungan sekolahnya.
“Kepala Sekolah sebagai pemimpin seharusnya menjadi motivator dan teladan untuk meningkatkan semangat kerja para guru dan staf. Selain itu, mereka wajib menjalankan sistem pelayanan pendidikan agar bisa berjalan secara efektif sesuai visi, misi, dan tujuan sekolah,” ujar Muamil, Rabu (14/1/26).
Menurutnya, sikap para Kepsek yang asyik jalan-jalan keluar daerah di saat proses pendidikan sedang aktif merupakan tindakan yang tidak terpuji. Hal ini menjadi catatan buruk bagi kredibilitas seorang pemimpin yang dengan sengaja meninggalkan tugas dan tanggung jawab utamanya.
Muamil mempertanyakan komitmen para Kepsek tersebut terhadap kualitas pelayanan di sekolah masing-masing. Baginya, kepemimpinan adalah faktor kunci dalam keberhasilan sistem pendidikan.
“Jika di saat proses pendidikan sedang aktif tetapi Kepsek asyik jalan-jalan keluar daerah, bagaimana nantinya sistem pelayanan pendidikan di sekolah tersebut bisa berjalan maksimal?” cetusnya.
Muamil menilai, tindakan meninggalkan sekolah di hari kerja demi kepentingan non-kedinasan telah mencederai kepercayaan publik terhadap integritas kepemimpinan di dunia pendidikan Kota Ternate.
Fakta ini diperkuat dengan beredarnya dokumentasi aktivitas para pendidik tersebut di media sosial. Dalam salah satu unggahan status WhatsApp yang berhasil diabadikan, rombongan Kepsek tersebut tampak asyik berpose di destinasi wisata Hutan Pinus Mangunan, Yogyakarta.
Mengenakan seragam berwarna cokelat muda dengan kerudung biru yang seragam, mereka berpose ceria tanpa menunjukkan adanya agenda kunjungan resmi ke lembaga pendidikan tertentu. Yang lebih ironis, keberadaan Kabid Mutasi dan Promosi, Sitti Jawan Lessy, di tengah rombongan semakin memperkuat dugaan bahwa perjalanan ini adalah agenda non-kedinasan yang difasilitasi oleh oknum internal dinas.
Menanggapi perkembangan fakta di lapangan, Sumber internal, kembali angkat bicara. Ia menilai alasan studi banding yang sempat disampaikan ke Wartawan merupakan bentuk pembohongan informasi jika pada kenyataannya rombongan hanya terlihat mengunjungi tempat-tempat wisata.
“Jika benar mereka hanya jalan-jalan, maka ini bukan lagi soal ketidakhadiran di jam kerja, tapi sudah masuk pada pembohongan publik. Menggunakan diksi ‘studi banding’ untuk menutupi agenda jalan-jalan adalah tindakan yang sangat tidak terpuji dan memalukan dunia pendidikan,” tegas sumber yang enggan di publikasi Selasa (13/1/).

Tinggalkan Balasan