Jakarta- Pulau Obi. Halamhera Selatan. Kawasan industri nikel raksasa milik Harita Group kembali memakan korban jiwa.

Insiden maut yang menewaskan seorang pekerja lokal berinisial Afc, anggota Crew Electric Furnace PT Karunia Permai Sentosa (KPS), pada Kamis (11/12) lalu, membuka kotak pandora buruknya perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) dan keselamatan kerja (K3) di jantung industri strategis nasional tersebut.

Korban ditemukan tidak bernyawa dalam kondisi mengenaskan di atas tumpukan material panas jalur conveyor.

Foto internal yang beredar memperlihatkan pemandangan memilukan, tubuh Afc tergeletak di tengah material yang membara, mengindikasikan bahwa maut menjemputnya secara mendadak di tengah hiruk-pikuk produksi.

Informasi yang dihimpun mengungkap dugaan kuat adanya pelanggaran prosedur keselamatan yang fatal. Berdasarkan sumber internal, insiden dipicu oleh operasional alat bor yang dikendalikan oleh Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China yang diduga tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Kekecewaan keluarga korban semakin memuncak setelah mengetahui adanya jeda waktu lima jam antara waktu kejadian (pukul 11.00 WIT) dan pemberitahuan resmi dari perusahaan (pukul 16.00 WIT).

Keterlambatan ini dinilai bukan hanya tidak profesional, melainkan bentuk penghinaan terhadap martabat kemanusiaan.

Menanggapi tragedi ini, Direktur Harian Advokasi Tambang Maluku Utara (HANTAM MALUT), Alfatih Soleman, memberikan pernyataan keras. Ia menilai kematian Afc bukan sekadar kecelakaan kerja biasa, melainkan bukti nyata adanya apartheid keselamatan di wilayah industri.

“Kami mengutuk keras ketidakterbukaan pihak perusahaan dalam insiden ini. Nyawa pekerja lokal seolah tidak ada harganya jika dibandingkan dengan target produksi. Jika benar alat bor yang dioperasikan TKA tersebut menabrak SOP hingga menewaskan saudara kami, maka ini adalah tindakan kriminal yang harus diproses hukum secara pidana” tegas Alfatih. Rabu (7/1/25).

Alfatih juga menyoroti ketimpangan pengawasan terhadap TKA di kawasan Harita Group.

“Harita jangan hanya jago mengeksploitasi sumber daya alam kami, tapi abai memanusiakan pekerjanya. Kami menuntut audit total! Jangan ada yang disembunyikan di balik tembok tinggi kawasan industri. Kematian Afc adalah alarm keras bahwa kedaulatan keselamatan pekerja lokal sedang digadaikan demi investasi,” ungkapnya.