JAKARTA-Halmahera Selatan, Pulau Obi, kini bukan lagi sekadar titik koordinat di peta Maluku Utara; ia telah menjelma menjadi simbol tragis kehancuran alam atau ekosida. Ekspansi industri nikel yang dipimpin oleh raksasa korporasi PT Harita Group dituding menjadi aktor utama di balik memburuknya krisis lingkungan, sosial, dan ekonomi di wilayah tersebut.
Direktur Harian Advokasi Tambang Maluku Utara (Hantam Malut), Alfatih Soleman, mengeluarkan pernyataan keras yang menelanjangi praktik industri di balik narasi “hijau” yang selama ini didengungkan korporasi. Menurutnya, emisi karbon dari smelter nikel bukan sekadar asap buangan, melainkan lonceng kematian bagi ekosistem lokal.
Selama ini, Harita Group kerap mengklaim bahwa hilirisasi nikel melalui teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) adalah bagian dari kontribusi terhadap transisi energi hijau dunia. Namun, Alfatih menegaskan bahwa narasi keberlanjutan tersebut hanyalah tameng untuk menyembunyikan realitas yang mengerikan.
“Narasi keberlanjutan ini hanyalah kosmetik. Fakta di lapangan menunjukkan adanya perampasan ruang hidup dan pengrusakan sumber kehidupan warga secara brutal,” tegas Alfatih, (6/1/26).
Teknologi HPAL yang digunakan dikenal sangat intensif terhadap penggunaan air dan menghasilkan limbah berbahaya, termasuk residu asam dan logam berat. Hal ini menciptakan risiko kerusakan lingkungan yang permanen dan sulit dipulihkan.
Alfatih menyoroti hilangnya fungsi vital hutan sebagai penyerap karbon akibat pembukaan lahan tambang yang masif. Ia memaparkan skenario kiamat ekologis yang kini sedang terjadi:
* Ledakan Emisi: Hilangnya pohon memicu peningkatan drastis CO2 di atmosfer.
* Pemanasan Global: Suhu lokal dan bumi meningkat secara signifikan.
* Krisis Kelautan: Lautan terpaksa menyerap panas berlebih dan racun karbon, yang merusak ekosistem bawah laut.
Dampak dari ambisi industri ini tidak berhenti pada polusi udara. Hantam Malut mencatat adanya kekerasan struktural yang sistematis terhadap warga lokal:
* Nelayan Kehilangan Laut: Akses wilayah tangkap tradisional kini terpagari oleh zona eksklusif industri.
* Petani Kehilangan Air: Sungai-sungai yang dulunya bening kini berubah keruh, tercemar residu kimia dan logam berat.
* Ketergantungan Ekonomi: Masyarakat dipaksa meninggalkan kearifan lokal (tani dan nelayan) menuju ekonomi tambang yang rentan dan tidak berkelanjutan.

Hantam Malut mengimbau seluruh pemangku kepentingan di Maluku Utara untuk tidak menutup mata. Emisi karbon dan limbah industri di Pulau Obi adalah ancaman pemusnahan alam secara brutal yang dilakukan atas nama pembangunan.
“Ini adalah bukti nyata ekosida. Jika pemerintah terus membiarkan korporasi mengeruk keuntungan di atas puing-puing kehancuran hidup masyarakat lokal, maka kita sedang merancang kepunahan kita sendiri,” tutup Alfatih.

Tinggalkan Balasan